Tak Berkategori

SERTIJAB PASKIBRA

Paskibra SMAN 4 Mataram sukses melaksanakan Serah Terima Jabatan (SERTIJAB). Anggota baru paskibra SMAN 4 Mataram Resmi Di Lantik Menjadi Anggota Paskibra SMAN 4 Mataram Tahun 2020, Dalam Sertijab tersebut  semua siswa yang dilantik mengucapkan janji untuk menjalankan tugas-tugasnya selama menjadi anggota Paskibra  SMAN 4 Mataram.

Tujuan dalam kegiatan tersebut mengukuhkan siswa-siswa agar meningkatkan kualitas pengurus yang lebih baik, mempunyai jiwa yang kuat dengan dibekali ilmu pengetahuan dalam berorganisasi, Sebagai upaya untuk meningkatkan perilaku serta memberi bekal pengetahuan tentang organisasi dan persaudaraan antar anggota PASKIBRA. Selain itu dapat memperkuat fisik dan mental para pengurus, menambah wawasan dan pengalaman dalam suatu kegiatan. Lebih memajukan program kerja PASKIBRA SMAN 4 Mataram sesuai dengan kualitas siswa terbaik, memiliki dasar kemampuan dalam berorganisasi.

SERTIJAB PMR

Kegiatan pelantikan dan sertijab kepengurusan PMR SMAN 4 Mataram masa bakti 2020/2021 ini adalah kegiatan yang dilakukan untuk melantik pengurus-pengurus baru PMR. Dengan adanya sertijab ini, otomatis kepengurusan PMR SMAN 4 Mataram masa bakti 2018/2019 telah berakhir.
Kegiatan serah terima jabatan ini bertujuan supaya pengurus baru yang menerima mandat bekerja lebih amanah, lebih semangat dan lebih eksis. Bisa membawa PMR SMAN 4 Mataram menuju prestasi yang lebih baik. Anggota PMR merupakan salah satu kekuatan PMI dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan kemanusiaan di bidang kesehatan, siaga bencana, mempromosikan prinsip-
prinsip dasar gerakan palang merah dan bulan sabit merah Internasional, serta mengembangkan kapasitas organisasi PMI.

LOMBA LITERASI

         Budaya literasi makin hanyut ditelan era smartphone. Hampir semua orang selalu menyalahkan cepatnya perkembangan teknologi sebagai sebab anak anak tidak mau baca, apalagi menulis. Apakah memang seperti itu keadaannya? Smartphone tidak sepenuhnya menjadi sebab rendahnya literasi anak anak Indonesia. Dalam konteks ini, sebagai bangsa dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, dengan jumlah lembaga pendidikan dan perguruan tinggi yang terus meningkat, apakah Indonesia telah memiliki tradisi literasi yang baik?  Tentu saja belum. Hal ini senada dengan data yang dilansir oleh Central Connecticut State University di New Britain, AS, menempatkan lima negara pada posisi terbaik yaitu Finlandia, Norwegia, Islandia, Denmark, dan Swedia. Dan kita mungkin terkejut ketika mengetahui Indonesia pada posisi 60 dari 61 negara. Indonesia hanya setingkat lebih tinggi dari Botswana, sebuah negara di Afrika. (The Jakarta Post, 12 Maret 2016).

Tertuang dalam Permendikbud 23 tahun 2015 yaitu gerakan literasi sekolah melalui  program membaca 15 menit. Kegiatan membaca 15 menit disesuaikan dengan kondisi sekolah. Bisa dilaksanakan di awal, tengah, atau akhir pembelajaran. Tujuan dari gerakan literasi sekolah ini agar peserta didik gemar membaca serta menjadi kebiasaan dan gaya hidup. Prinsip membaca 15 menit ini dengan pendekatan sambil bermain dan menyenangkan. Untuk mewujudkan sebuah kebiasaan menjadi tradisi apalagi menjadi sebuah budaya tidaklah gampang dan semudah membalikkan telapak tangan. Gerakan literasi sekolah ini memiliki hambatan yaitu rendahnya minat baca ,tulis dan ketrampilan berbahasa siswa. Untuk itu SMAN 4 Matarat menyelenggarakan lomba duta literasi untuk meningkatkan Gerakan Literasi Sekolah siswa gemar membaca. Obyeknya adalah siswa kelas X dan XI.

            Apa itu duta literasi sekolah ? Duta Literasi adalah siswa siswa yang terbentuk dari suatu pemilihan seleksi yang bertujuan untuk mengembangkan hal-hal yg berterkaitan dengan literasi. Selanjutnya, duta literasi akan selalu berusaha untuk mengembangkan literasi di sekolah yaitu menumbuh kembangkan minat baca dan tulis para siswa .Kompetisi duta literasi merupakan kompetisi dalam satu semester untuk menentukan siapakah siswa yang paling banyak pointnya. Indikator penilainya yaitu jumlah pinjaman buku, membaca buku sampai selesai, menulis ringkasan, dan menceritakan kembali isi buku. Buku – buku tersebut merupakan buku perpustakaan non pelajaran. Menurut Deaux, Dane, & Wrightsman (1993), kompetisi adalah aktivitas mencapai tujuan dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok. Individu atau kelompok memilih untuk bekerja sama atau berkompetisi tergantung dari struktur reward dalam suatu situasi. Hal ini senada dengan psikolog yang ahli neuropsikologi, Timothy Gunn, mengatakan bahwa siswa  yang terlibat dalam kompetisi akan belajar mengenai nilai kerja keras. Mereka selalu termotivasi untuk bekerja keras untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.